Tahun 1983
Dr. Zubairi Djoerban melaksanakan penelitian terhadap 30 waria di Jakarta.
Karena rendahnya tingkat limfosit dan gejala klinis, Dr. Zubairi menyatakan dua
di antaranya kemungkinan AIDS. Pada November, Menteri Kesehatan RI, Dr.
Soewandjono Soerjaningrat menyatakan pencegahan AIDS terbaik adalah tidak
ikut-ikutan jadi homoseks ... dan mencegah turis-turis asing membawa masuk
penyakit itu.
Tahun 1984
Di Kongres Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (KOPAPDI) VI, pada Juli,
dilaporkan bahwa dari 15 orang diperiksa, tiga memenuhi kriteria minimal untuk
diagnosis AIDS. Pada November, Kepala Divisi Transfusi Darah PMI, Dr. Masri
Rustam menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir AIDS menyerang penerima
transfusi darah di sini. Walau skrining membutuhkan biaya besar, pencegahan ...
dilakukan dengan melarang kaum homoseksual atau waria menjadi donor darah.
Tahun 1985
Pada 1 Agustus, Dr. Zubairi menyatakan bila penyakit AIDS sampai menyerang
masyarakat akan sulit dicegah. Pada hari berikut, Menkes membenarkan adanya
kemungkinan AIDS sudah masuk ke Indonesia. Dr. Arjatmo Tjokrnegoro PhD, ahli
imunologi di FK-UI, menduga mungkin orang Indonesia kebal terhadap AIDS karena
aspek rasial.
Pada 8 Agustus, RSCM dan FK-UI membentuk satuan tugas untuk mengkaji masalah
AIDS. Pada 2 September, Menkes menyatakan sudah ada lima kasus AIDS ditemukan
di Bali. Namun Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan
Lingkungan Pemukiman (P2MPLP) Depkes, Dr. M. Adhyatama mengaku dia tidak
tahu-menahu mengenai kasus tersebut. Seorang perempuan berusia 25 tahun dengan
hemofilia dinyatakan terinfeksi HIV pada September di Rumah Sakit Islam Jakarta
(RSIJ).
Pada 11 November, Menkes mengatakan bahwa belum pernah ditemukan orang yang
betul-betul terkena penyakit AIDS. Menjawab pertanyaan wartawan, Menkes
komentar “Kalau kita taqwa pada Tuhan, kita tidak perlu khawatir terjangkit
penyakit AIDS.”
Tahun 1986
Perempuan berusia 25 tahun yang didiagnosis HIV pada September 1985 meninggal
dunia di RSIJ, tes darahnya memastikan bahwa dia terinfeksi HTLV-III, dan
dengan gejala klinis yang menunjukkan AIDS. Kasus ini tidak dilaporkan oleh
Depkes. Pada Januari, tes HIV dapat dilakukan di RSCM dengan biaya Rp 62.500.
Hasil positif akan dikirim ke AS untuk penelitian lebih lanjut. Juga pada
Januari, FKUI RSCM melakukan penelitian terhadap pasien hemofilia yang menerima
produk darah (faktor VIII). Ternyata ditemukan satu di antaranya yang
dipastikan terinfeksi HIV. Dan pasien tersebut masih diketahui hidup sehat
tanpa terapi antiretroviral (ART) pada Juli 1998 – lebih dari 12 tahun setelah
didiagnosis.
Pada Maret, satuan tugas RSCM dan FK-UI yang dibentuk pada 1985 untuk mengkaji
masalah AIDS diresmikan sebagai Kelompok Studi Khusus (Pokdisus) AIDS.
Tahun 1987
Seorang wisatawan asal Belanda meninggal di RS Sanglah, Bali. Kematian pria
berusia 44 tahun itu diakui Depkes disebabkan AIDS. Indonesia masuk dalam
daftar WHO sebagai negara ke-13 di Asia yang melaporkan kasus AIDS. Pada
Oktober, dilakukan Kongres tentang Penyakit Akibat Hubungan Kelamin di Bali
sekaligus Konferensi International Union Against Venerial Diseases and
Treponematoses untuk kawasan Asia dan Pasifik. Menkes Dr. Soewandjono
Soerjaningrat dalam sambutan mengatakan bahwa penyakit yang sebelumnya
dikaitkan dengan hubungan seksual yang menyimpang dari tuntutan agama, ternyata
dapat menular melalui darah.
Tahun 1988
Pada 1988, Depkes hanya melaporkan tambahan satu kasus infeksi HIV di
Indonesia.
Tahun 1989
Tema Hari AIDS Sedunia 1989 adalah “Kaum Muda (Youth).” Pada 1989, Depkes tidak
melaporkan satu pun kasus infeksi HIV tambahan di Indonesia. Namun satu kasus
HIV dilaporkan berlanjut menjadi AIDS.
Tahun 1990
Tema Hari AIDS Sedunia 1990 adalah “Wanita dan AIDS (Women and AIDS).” Pada
1990, Depkes melaporkan tambahan dua kasus AIDS, sehingga jumlah kasus infeksi
HIV di Indonesia menjadi sembilan.
Tahun 1991
International AIDS Candlelight Memorial pertama diselenggarakan di Indonesia.
Peristiwa ini, dikenal sebagai Malam Tirakatan Mengenang Korban-Korban AIDS,
diselenggarakan di Surabaya oleh Kelompok Kerja Lesbian & Gay Nusantara
(sekarang Gaya Nusantara), dengan bantuan dari Persatuan Waria Kotamadya
Surabaya (Perwakos). Pada 29-30 Juli, dilakukan Semiloka Nasional AIDS di
Denpasar, Bali, untuk membahas Pengembangan Strategi Penanggulangan AIDS di
Indonesia. Tema Hari AIDS Sedunia 1991 adalah “Bersama Kita Hadapi Tantangan
(Sharing the Challenge).” Pada 1991, Depkes melaporkan tambahan jumlah kasus
infeksi HIV di Indonesia sudah menjadi 18, dengan 12 sudah AIDS.
Tahun 1992
Tema Hari AIDS Sedunia 1992 adalah “Komitmen Komunitas (Community Commitment).”
Pada 1992, Depkes melaporkan tambahan jumlah kasus infeksi HIV di Indonesia
sudah menjadi 28, dengan 10 sudah AIDS.
Tahun 1993
Tema Hari AIDS Sedunia 1993 adalah “Waktunya Untuk Bertindak! (Time to Act)”.
Di Indonesia, dilaporkan 137 kasus infeksi HIV plus 51 orang dengan AIDS.
Tahun 1994
LP3Y bekerja sama dengan Lentera-PKBI DIY dan The Ford Foundation, melakukan
Work Shop Penulisan AIDS bagi Wartawan. Sebagai hasil dari kegiatan itu,
diterbitkan dua buku kecil, “10 Pakar Bicara AIDS” dan “11 Langkah Memahami
AIDS.” Pada 30 Mei, Presiden RI, Suharto, menandatangani Keputusan Presiden
Nomor 36/2004 tentang Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). Berdasarkan Kepres 36
ini, Menkokesra Ir Azwar Anas mengeluarkan
Keputusan tentang Susunan, Tugas dan Fungsi Keanggotaan KPA pada 15 Juni, serta
Keputusan tentang Strategi Nasional Penanggulangan AIDS di Indonesia pada 16
Juni. Ketua KPA adalah Menkokesra sendiri, dan sekretaris KPA pertama adalah
Dr. Suyono Yayha, MPH.
Pada Agustus, sebuah pokja KPA memperkirakan bahwa jumlah kasus infeksi HIV di
Indonesia pada 2005 akan menjadi antara 600.000 (penularan rendah, intervensi
yang efektif) dan 1.990.000 (penularan tinggi, tanpa intervensi).
Pada akhir tahun ini di Indonesia, secara kumulatif sudah dilaporkan 275
infeksi HIV, dengan 67 di antaranya AIDS. 100 di antaranya adalah WNA. 203
adalah laki-laki, 68 perempuan, 4 tidak diketahui. Jalur penularan: 69
homoseks, 160 heteroseks, 2 IDU, 2 transfusi darah, 2 hemofilia dan 40 tidak
diketahui.
Tema Hari AIDS Sedunia 1994 adalah “AIDS & Keluarga (AIDS and the Family).”
Tahun 1995
Edisi perdana majalah Support diterbitkan oleh Yayasan Pelita Ilmu pada
Januari. Hingga Mei, 49 orang tercatat meninggal karena AIDS di Indonesia.
Pusat Media Pelatihan AIDS untuk Wartawan (PMP AIDS) didirikan pada awal tahun
oleh LP3Y di Yogyakarta. Newsletter PMP AIDS edisi perdana diterbitkan pada
Mei. Yayasan Pelita Ilmu (YPI) membuka Sanggar Kerja, yaitu tempat persinggahan
(shelter) untuk Odha, di Kebon Baru, Jakarta, dengan dukungan oleh Ford
Foundation. Program Buddies (pendamping Odha) juga dimulai.
Pada Agustus, RS Medistra Jakarta melarang Dr. Samsuridjal Djauzi untuk merawat
pasien apa pun, karena beliau bersedia merawat pasien AIDS di RS tersebut.
Dikutip oleh harian Kompas pada Mei, Menteri Negara Kependudukan/Kepala BKKBN
menyinyalir bahwa “virus AIDS sudah dimanfaatkan sebagai alat tindak
kejahatan...”
Spiritia didirikan oleh Suzana Murni sebagai organisasi yang mandiri pada
November. Tema Hari AIDS Sedunia 1995 adalah “Hak dan Tanggung Jawab Bersama
(Shared Rights, Shared Responsibilities).” Kegiatan dikoordinasi oleh BKKBN.
Headline pada Suplemen Khusus Harian Surya yang menyambut Hari AIDS Sedunia
berbunyi “Tunggu! AIDS mungkin akan mewabah di Indonesia.” Pada akhir tahun ini
di Indonesia, secara kumulatif sudah dilaporkan 364 infeksi HIV, dengan 87 di
antaranya AIDS.
Tahun 1996
Pada pertemuan di Pacet, Jawa Timur, pada 15 Maret, dikeluarkan “Pernyataan Pacet
tentang Masalah Etika dan Hak Asasi yang berkaitan dengan Pewabahan dan Upaya
Pencegahan HIV/AIDS.”– 4 – International AIDS Candlelight Memorial
diselenggarakan di 31 kota di Indonesia sebagai Malam Renungan AIDS Nusantara
(MRAN), dengan tema “Bersama Membangun Harapan,” dikoordinasikan oleh Grup
Koordinasi Nasional Mobilisasi AIDS Nusantara (GKNMAN). Menurut harian Kompas,
“diiringi lagu ‘Lilin-lilin Kecil’ yang dinyanyikan sendiri oleh penciptanya,
James F Sundah, sekitar seribu lilin di tangan para hadirin menyala menerangi
Plaza Taman Ismail Marzuki, Jakarta.” Pertemuan Nasional Pencegahan dan
Penatalaksanaan HIV/AIDS (Pertemuan Nasional HIV/AIDS I) dilakukan pada Juli di
Wisma Kalimanis, Jakarta. Pada pertemuan itu, diputuskan untuk mendirikan tiga
organisasi baru: Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia (PDPAI); Forum
Komunikasi LSM/Organisasi Peduli AIDS (FKLOPA); dan Masyarakat Peduli AIDS
Indonesia (MPAI).
Milis AIDS-INA, milis pertama untuk membahas masalah HIV dan AIDS di Indonesia,
diluncurkan oleh Dr. Pandu Riono. Tema Hari AIDS Sedunia 1996 adalah “Satu
Dunia Satu Harapan (One World One Hope)”. Pada akhir tahun ini di Indonesia,
secara kumulatif sudah dilaporkan 501 infeksi HIV, dengan 119 di antaranya
AIDS.
Tahun 1997
Pada Mei, Ditjen POM mengeluarkan surat resmi kepada Ditjen Bea Cukai yang
menerangkan bahwa bila Bea Cukai mendapat kiriman ARV dari luar negeri yang
ditujukan pada Pokdisus AIDS, obat tersebut dapat dikeluarkan tanpa harus diuji
coba Ditjen POM.
Pada Juni, ARV yang berikut tersedia di Indonesia: AZT, ddI, ddC, 3TC,
saquinavir dan ritonavir. Namun harganya tidak terjangkau untuk mayoritas Odha.
Surveilans yang dilakukan terhadap waria di Jakarta menunjukkan prevalensi HIV
6%, naik dari 0,3% pada 1995.
Tema Hari AIDS Sedunia 1997 adalah “Anak-anak yang Hidup di Dunia dengan AIDS
(Children Living in a World with AIDS)”
Pada akhir tahun ini di Indonesia, secara kumulatif sudah dilaporkan 619
infeksi HIV, dengan 153 di antaranya AIDS.
Tahun 1998
Didi Mirhad, bintang iklan Indonesia, mengungkapkan status dirinya HIV-positif
pada media massa. Pertemuan Odha pertama dilakukan oleh Spiritia di Ubud, Bali,
dengan menghadirkan 16 Odha dan Ohidha dari seluruh Indonesia. Pada Oktober,
RCTI mulai menayangkan sinetron Kupu-Kupu Ungu, disutradarai oleh Nano
Riantiarno, dengan bintang Nurul Arifin dan Sandi Nayoan. Sinetron sepanjang 13
episode tersebut menggambarkan beragam masalah medis, sosial, psikologis dan
mitos seputar HIV dan AIDS. Tema Hari AIDS Sedunia ditentukan sebagai “Kaum
Muda: Semangat Perubahan”. Kegiatan dikoordinasi oleh Departemen Agama.
Menjelang Hari AIDS, KPA meluncurkan Kampanye Nasional AIDS, ditandai oleh
lambang baru, yaitu pita merah-putih.
Tahun 1999
Didi Mirhad, bintang iklan Indonesia, meninggal dunia karena AIDS pada 25
Agustus. Semiloka Nasional Penggunaan dan Penyalahgunaan NAZA dilakukan selama
empat hari di September oleh sekelompok aktivis HIV dan narkoba, dengan
melibatkan beberapa pembicara dari Australia dan Malaysia. Pertemuan ini adalah
pertama kali konsep Harm Reduction dibahas oleh para pembuat kebijakan dan
pengambil keputusan di Indonesia. Tema Hari AIDS Sedunia 1999, ‘Dengar, Simak,
Tegar! (Listen, Learn, Live!)’ tetap ditujukan pada orang berusia di bawah 25
tahun. Kegiatan dikoordinasi oleh Departemen Pendidikan.
Pada akhir tahun, ARV yang berikut tersedia di Indonesia: AZT, ddI, ddC, 3TC,
d4T, saquinavir, ritonavir dan indinavir.
Tahun 2000
Pertemuan Nasional HIV/AIDS II dilakukan pada April di Jakarta. Surveilans di
antara 67 pengguna narkoba suntikan yang ditahan di Lapas Kerobokan di Bali
pada akhir tahun menemukan 35 (56%) terinfeksi HIV. Pada November, sebuah
pertemuan yang dilakukan oleh Lentera-Sahaja PKBI DIY di Kaliurang, DIY yang
melibatkan beberapa relawan dari kelompok marjinal dibongkar secara ‘brutal dan
keji oleh kelompok orang yang bertopeng dan bersembunyi dibalik jubah “agama”
ataupun “parpol” tertentu.’
Tema Hari AIDS Sedunia 2000 adalah ‘AIDS – Pria Berpengaruh (AIDS – Men Make a
Difference)’.
Kegiatan dikoordinasi oleh BKKBN.
Tahun 2001
Dua belas penghuni sebuah pusat pemulihan narkoba di Bali dites HIV. Delapan di
antaranya ditemukan terinfeksi. Dengan dukungan dari Ketua Badan POM, berapa
jenis ARV generik dari India mulai tersedia di Indonesia, termasuk AZT, 3TC,
gabungan AZT+3TC, d4T dan nevirapine. Dengan obat ini, terapi antiretroviral
(ART) yang baku mulai tersedia di Indonesia, walau harga masih mahal (lebih
dari Rp 1 juta per bulan).
Pertemuan Nasional Odha ke-2 dilakukan oleh Spiritia di Kuta, Bali pada
September, dihadiri oleh 36 Odha dan Ohidha dari seluruh Indonesia. Peserta
menyetujui dikeluarkan “Asas-Asas Penanggulangan HIV/AIDS” sebagai suatu hasil
dari pertemuan itu. Walau dalam keadaan sakit dan harus memakai kursi roda,
Suzana Murni, pendiri Spiritia berpidato pada pembukaan Konferensi
Internasional AIDS di Asia Pasifik (ICAAP) ke-6 di Melbourne, pada Oktober, dengan
judul ‘Memecah Penghalang’.
Tema Hari AIDS Sedunia 2000 adalah ‘Kami peduli. Anda bagaimana? (I care. Do
you?)’. Kegiatan dikoordinasi oleh Departemen Kesehatan.
Pada 31 Desember, Drs. M. Jusuf Kalla sebagai Menkokesra menandatangani
Keputusan tentang Sekretariat KPA, yang menetapkan Dr. Farid Husein sebagai
Sekretaris KPA.
Tahun 2002
Sidang Kabinet Sesi Khusus HIV/AIDS dilakukan pada 28 Maret. Pada 1 April,
disusun Komite Pengarah untuk Strategi Nasional Penanggulangan AIDS, untuk
mengembangkan rancangan Stranas baru.– Permohonan Indonesia untuk dana dari
Global Fund Ronde 1 disetujui, dengan dana hampir 16 juta dolar untuk HIV. Fase
1 program, dengan dana hampir 7 juta dolar, mulai diterapkan pada Juli 2003.
Suzana Murni, pendiri Spiritia, meninggal dunia pas sebelum pembukaan
Konferensi AIDS Sedunia ke- 14 di Barcelona, Spanyol pada Juli. Konferensi ini
didominasi oleh masalah terkait pengobatan untuk HIV di negara terbatas sumber
daya. Penghargaan yang diberikan pada Spiritia oleh Family Health International
(FHI) diterima oleh Siradj Okta, adik Suzana.
Indonesia menunjukkan betapa mendadak epidemi HIV dapat muncul. Setelah lebih
dari sepuluh tahun prevalensi HIV yang rendah, angka meloncat di antara
pengguna narkoba suntikan dan pekerja seks, dengan sampai 40% orang di tempat
pemulihan narkoba di Jakarta diketahui HIV-positif.
Pada Oktober dibentuk Gerakan Nasional Meningkatkan Akses Terapi HIV/AIDS
(GN-MATHA), diketuai oleh Dr. Samsuridjal Djauzi, dengan tujuan agar 10.000
Odha di Indonesia mendapatkan ART pada 2005.
Sebuah International Roundtable: Increasing Access to HIV Treatment in Resource
Poor Settings dilakukan di Canberra, Australia pada September. Di antara 85
peserta, dari 18 negara, ada lima dari Indonesia.
Tema Hari AIDS Sedunia 2002 ditetapkan oleh BKKBN sebagai ‘Tetap Hidup dengan
Tegar’. Tema internasional adalah ‘Live and Let Live’.
Dirjen Farmasi Depkes memasukkan AZT, 3TC dan nevirapine dalam Daftar Obat
Esensial Nasional (DOEN) untuk semua rumah sakit tipe A dan tipe B
se-Indonesia.
Tahun 2003
Pertemuan Nasional Odha ke-3 dilakukan oleh Spiritia di Cikopo, Puncak pada
Februari, dihadiri oleh 50 Odha dan Ohidha dari seluruh Indonesia. Peserta
menyetujui dikeluarkannya “Pernyataan Cikopo” sebagai suatu hasil dari
pertemuan itu.
“Tegak Tegar – Hidup Positif Bersama HIV”, Pameran Foto Karya Rio Helmi, yang
didedikasikan untuk Almarhumah Suzana Murni, diluncurkan di Gedung DPR-RI, Senayan,
Jakarta pada Februari. Foto dalam pameran menunjukkan beberapa Odha di Indonesia
dalam kegiatan sehari-hari.
Pada Maret, Menteri Kesehatan RI mengatakan bahwa pemerintah akan memberi
subsidi ARV generik sebesar Rp 200.000 per bulan untuk setiap Odha yang
membutuhkannya. Beberapa provinsi memutuskan untuk menyediakan ARV secara
gratis untuk sejumlah Odha di provinsinya.
Pada Juli, penyediaan ART untuk 100 Odha di Indonesia yang didanai oleh Global
Fund mulai direncanakan.
Program Global Fund Ronde I Fase 1 untuk HIV dimulai di Indonesia pada Juli.
Program ini diutamakan untuk memberi ARV pada 100 Odha di lima provinsi.
Pada Agustus 2003, Kimia Farma meluncurkan produk ARV-nya. Pada awal disediakan
AZT (Reviral), 3TC (Hiviral), gabungan AZT+3TC (Duviral), serta nevirapine
(Neviral). Namun rencana awal untuk membuat gabungan AZT+3TC+nevirapine dengan
nama Triviral tidak berhasil. Harga untuk Duviral dan Neviral ditetapkan
sebagai Rp 345.000.
Jogjakarta Round Table Meeting, yang dihadiri oleh peserta dari 16 negara
dengan tujuan mengevaluasi pelaksanaan akses ART, diselenggarakan pada
September. Pertemuan ini adalah lanjutan dari pertemuan serupa yang dilakukan
di Canberra pada 2002.
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) meluncurkan Strategi Nasional Penanggulangan
AIDS 2003-2007. Menyambut Hari AIDS Sedunia, Presiden Republik Indonesia
Megawati bertemu dengan beberapa Odha di istana negara.
Tema Hari AIDS Sedunia 2003 ditetapkan oleh Departemen Sosial sebagai ‘Stigma
dan Diskriminasi’. Pada akhir 2003, diperkirakan 1.100 Odha memakai ART di
Indonesia.
Tahun 2004
Pada 19 Januari, wakil dari pemerintah enam provinsi yang dianggap paling
rentan terhadap HIV (Papua, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, DKI Jakarta, dan
Riau), pada pertemuan di Papua dengan Ketua KPA Jusuf Kalla dan wakil dari enam
departemen serta Ketua Komisi VII DPR-RI, Dr. Sanusi Tambunan, menyatakan
Komitmen Sentani. Di antara tujuh pasal dalam komitmen tersebut, para peserta
berjanji akan “Mengupayakan pengobatan HIV/AIDS termasuk penggunaan ARV kepada minimum
5.000 Odha pada tahun 2004.”
Pertemuan Nasional Odha ke-4 dilakukan oleh Spiritia di Tretes, Jawa Timur pada
Februari, dihadiri oleh 60 Odha dan Ohidha dari seluruh Indonesia.
Peserta menyetujui dikeluarkannya “Pernyataan Tretes” sebagai suatu hasil dari
pertemuan itu.
Departemen Kesehatan menetapkan 25 rumah sakit di 15 provinsi sebagai Rumah
Sakit Rujukan AIDS, tahap pertama. Sedikitnya dua dokter, satu perawat dan satu
konselor dari masing-masing rumah sakit diberi pelatihan khusus.
Spiritia meluncurkan prakarsa pencegahan untuk Odha yang disebut “HIV Stop di
Sini”, yang dimaksudkan membantu memutuskan rantai penularan.
Yayasan Spiritia melakukan pelatihan Pendidik Pengobatan pertama di Jakarta,
dengan melibatkan 45 peserta dari kelompok dukungan sebaya dan komunitas di
seluruh Indonesia. Setelah upaya advokasi yang melibatkan kelompok dukungan
sebaya dari seluruh Indonesia, Depkes mengubah kebijakan untuk menyediakan ART
dengan subsidi penuh pada 4.000 Odha.
Dilakukan Pertemuan Nasional KDS ke-2 di Sanur Bali pada November, dihadiri
oleh wakil dari 33 kelompok dukungan sebaya (KDS) untuk Odha/Ohidha dari 24
kota dan 20 provinsi. Peserta menyetujui dikeluarkan “Pernyataan Bali” sebagai suatu
hasil dari pertemuan itu.
Tema Hari AIDS Sedunia 2004 ditetapkan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan
sebagai ‘Perempuan, Remaja Putri, HIV dan AIDS’, dengan slogan “Sudahkah Kau
Dengar Aku Hari Ini?” Tema internasional adalah ‘Women, Girls, HIV and AIDS’,
dengan slogan “Have You Heard Me Today?”.
Tahun 2005
Setelah mengevaluasi kinerja penerapan Fase 1 programnya Ronde I di Indonesia,
Global Fund memutuskan untuk memotong dana untuk Fase 2 (Juli 2005-Juni 2007)
dari 9 juta dolar AS menjadi 900.000 dolar. Spiritia melaksanakan Kongres
Nasional Odha pertama di Lembang, Jawa Barat, pada September, dihadiri oleh 120
peserta Odha dan Ohidha. Peserta mengeluarkan “Pernyataan Lembang” seusai
pertemuan. Tema Hari AIDS Sedunia 2005 ditetapkan oleh Departemen Dalam Negeri
sebagai ‘Kepemimpinan dan HIV/AIDS’. Tema internasional adalah ‘Stop AIDS. Keep
the Promise’